Tampilkan postingan dengan label Katekese. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katekese. Tampilkan semua postingan

Rabu

ATP fase E Agama Katolik kelas X

 Halo rekan-rekan pendidik dan pemerhati pendidikan!

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kasih, karena atas penyertaan-Nya, saya dapat menyusun dan membagikan dokumen Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti – Fase E ini.

ATP ini disusun sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Dalam fase ini, peserta didik diajak untuk semakin mengenal jati dirinya sebagai citra Allah, memahami suara hati, dan meneladani pribadi Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari.

Dokumen ini saya susun dengan harapan bisa menjadi referensi dan inspirasi bagi rekan-rekan guru dalam menyusun perangkat ajar. Semoga dapat mendukung proses pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan tentu saja bermakna.

Silakan gunakan, kembangkan, dan sesuaikan ATP ini dengan kebutuhan dan karakter peserta didik di satuan pendidikan masing-masing. Jangan ragu untuk berbagi masukan atau berdiskusi melalui kolom komentar ya!

Selamat mengajar, selamat mendampingi perjalanan iman anak-anak kita!

Salam hangat,



Selasa

MENJADI KATOLIK YANG BAHAGIA

Mengenal Yesus Kristus Secara Lebih Dekat

(Bagian kedua dari materi Baptis dewasa)

 

1. Kelahiran Yesus Kristus: Bukti Nyata Kasih Allah yang Menyelamatkan

 

Kelahiran Yesus adalah momen luar biasa dalam sejarah umat manusia. Ia bukan sekadar bayi yang lahir di Betlehem, melainkan wujud nyata kasih Allah kepada dunia. Dalam Yohanes 3:16, kita diingatkan bahwa Allah begitu mencintai dunia hingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal agar siapa pun yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal. Inilah bentuk inisiatif Allah yang penuh cinta: Ia sendiri turun tangan untuk menyelamatkan kita.

Yesus adalah Sabda Allah yang menjadi manusia (Yoh. 1:14), dikandung oleh Roh Kudus dan lahir dari Maria yang perawan (Luk. 1:26–38). Inkarnasi ini bukan hanya sebuah mukjizat, tetapi juga pengungkapan bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia (KGK 464). Maria, ibu-Nya, juga bukan perempuan biasa. Ia dipilih sejak kekal dan dijaga dari dosa asal agar bisa menjadi Bunda Penebus (KGK 487). Dengan jawaban "ya" kepada malaikat Gabriel, Maria ikut serta dalam rencana keselamatan Allah.

Yang menarik, Yesus tidak lahir di istana, melainkan di kandang yang sederhana (Luk. 2:1–20). Ini bukan kebetulan. Allah ingin menunjukkan bahwa kasih-Nya hadir dalam kerendahan hati dan keterbukaan, bahkan kepada mereka yang paling kecil sekalipun. Para gembala—yang dianggap hina pada zaman itu—menjadi orang pertama yang menerima kabar gembira ini.

Sebagai calon baptis, kita diajak melihat kelahiran Yesus bukan sekadar sebagai kisah Natal, melainkan sebagai ajakan pribadi untuk merespons kasih Allah. Seperti Maria yang dengan rendah hati berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” kita pun dipanggil untuk membuka hati dan hidup dalam terang kasih Kristus.

 

2. Pembaptisan Yesus: Tanda Kerendahan Hati dan Awal Misi-Nya

 

Meski tanpa dosa, Yesus tetap meminta Yohanes Pembaptis untuk membaptis-Nya di Sungai Yordan (Mat. 3:13–17). Ini bukan karena Ia butuh pengampunan, melainkan sebagai wujud solidaritas-Nya dengan kita, umat manusia yang berdosa. Peristiwa ini menjadi awal dari karya besar penyelamatan yang Ia jalani.

Saat Yesus dibaptis, langit terbuka, Roh Kudus turun seperti burung merpati, dan suara Bapa terdengar: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Inilah momen ketika Tritunggal Mahakudus tampil nyata—Bapa, Putra, dan Roh Kudus hadir bersama (KGK 536).

Yesus menyucikan air baptisan dengan masuk ke dalamnya. Ia memberikan teladan bagi kita. Baptisan kita hari ini mendapat makna dari baptisan-Nya (KGK 1224). Ini bukan sekadar ritus, melainkan permulaan hidup baru yang dipenuhi Roh Kudus dan misi sebagai anak-anak Allah (Gal. 3:27).

Sebagai calon baptis dewasa, kita belajar dari Yesus tentang kerendahan hati dan kesiapan untuk menjalankan panggilan Allah. Pembaptisan bukan titik akhir, melainkan langkah pertama dalam hidup baru yang penuh makna.

 

3. Pewartaan Kerajaan Allah: Seruan untuk Hidup Baru

 

Setelah dibaptis dan menghadapi pencobaan di padang gurun, Yesus memulai pewartaan-Nya dengan satu pesan penting: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Mrk. 1:15). Ini bukan kerajaan seperti dalam dunia politik, tapi tempat di mana kehendak Allah sungguh dijalankan—di hati, dalam masyarakat, dan di seluruh dunia.

Yesus mengajarkan kita untuk meminta Kerajaan Allah hadir di bumi seperti di surga (Mat. 6:10). Itu berarti hidup yang penuh cinta, damai, dan keadilan. Menurut KGK 541, Yesus memanggil semua orang untuk bertobat dan percaya, sebab Kerajaan Allah terbuka bagi siapa saja yang hatinya terbuka—terutama mereka yang miskin dan lemah.

Yesus mewartakan Kerajaan ini lewat pengajaran dan perbuatan nyata. Ia menceritakan perumpamaan yang mengajak kita merenung, seperti tentang benih, anak yang hilang, dan ilalang. Semua ini mengajarkan bahwa Kerajaan Allah tumbuh perlahan, penuh belas kasih, dan selalu memberi ruang bagi pertobatan.

Sebagai calon baptis, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari Kerajaan ini. Itu artinya, kita perlu membuka hati, percaya kepada Yesus, dan mewujudkan kasih Allah dalam tindakan nyata sehari-hari—di keluarga, pekerjaan, dan komunitas.

 

4. Sabda dan Karya Yesus: Keselamatan yang Terlihat dan Terdengar

 

Yesus tidak hanya mengajarkan kebenaran lewat kata-kata, tapi juga mewujudkannya dalam tindakan. Pengajaran-Nya menyentuh hati: dari khotbah di bukit hingga kisah tentang belas kasih dan pengampunan. Tetapi sabda-Nya selalu disertai karya: Ia menyembuhkan orang sakit, memberi makan yang lapar, bahkan membangkitkan orang mati (Mrk. 2; Yoh. 11).

Mukjizat-mukjizat itu bukan sekadar keajaiban, tetapi tanda bahwa Kerajaan Allah sungguh hadir (KGK 547–548). Mereka menunjukkan siapa Yesus sesungguhnya: utusan Allah yang penuh kasih dan kuasa.

Sabda dan karya Yesus menyatu, menjadi jalan keselamatan. Ia tidak hanya bicara tentang belas kasih—Ia menunjukkannya dengan memberi perhatian kepada yang menderita. Ia tidak hanya bicara tentang pengampunan—Ia mengampuni, bahkan saat disalib.

Sebagai calon baptis, kita pun dipanggil untuk hidup seperti itu. Iman bukan hanya untuk dipercayai, tapi untuk dijalani dalam kasih dan pelayanan. Setiap tindakan kasih yang kita lakukan menjadi saksi bahwa kita adalah murid Yesus.

 

5. Yesus Mengasihi Orang Miskin dan Berdosa: Kasih yang Menyentuh Hati

Yesus dikenal karena kedekatan-Nya dengan orang-orang yang tersingkir: para pemungut cukai, perempuan berdosa, dan orang sakit. Ia tidak menjauh, tetapi mendekat. Ia menyentuh yang tak tersentuh, mengampuni yang merasa tak layak, dan memulihkan martabat yang sudah dihancurkan dosa (Luk. 5:31–32; Mat. 9:10–13; Mrk. 1:40–45).

Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah tak bersyarat. KGK 544 menegaskan bahwa Kerajaan Allah terbuka bagi yang kecil dan miskin. Ia bukan hanya peduli secara rohani, tapi juga secara nyata—memberi makan, menyembuhkan, dan membela mereka yang tertindas.

Sebagai calon baptis, kita belajar bahwa kasih bukan untuk disimpan, tetapi dibagikan. Gereja dipanggil menjadi tempat penyembuhan, bukan penghakiman. Kita diajak merangkul yang tersingkir dan menjadi tanda kasih Allah yang menyembuhkan.

 

6. Sengsara dan Wafat Yesus: Kasih yang Total hingga Akhir

Puncak kasih Yesus adalah saat Ia menderita dan wafat di salib. Bagi dunia, salib mungkin tampak sebagai kekalahan, tapi bagi iman kita, itu adalah kemenangan kasih yang sempurna (Flp. 2:8). Yesus tidak sekadar mengajarkan kasih—Ia mempersembahkan hidup-Nya sebagai kurban untuk menebus dosa kita (KGK 606).

 

Dalam sengsara-Nya, Yesus mengambil tempat kita. Ia memikul derita yang seharusnya kita tanggung. Ia menjadi hamba yang taat, seperti nubuat Nabi Yesaya. Salib-Nya bukan simbol kehinaan, tapi jalan keselamatan dan solidaritas dengan semua yang menderita.

Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mengenangkan pengorbanan ini (KGK 1366). Dalam Misa, kita diundang untuk mempersembahkan diri juga—membawa luka, penderitaan, dan hidup kita ke altar Tuhan.

Sebagai calon baptis, Anda diundang memaknai salib bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan mengikuti Kristus. Dalam setiap penderitaan, ada kesempatan untuk bersatu dengan-Nya.

 

7. Kebangkitan Yesus: Harapan Baru yang Menghidupkan

Kebangkitan Yesus adalah dasar iman kita. Tanpa kebangkitan, semua yang kita percayai tak ada artinya (1 Kor. 15:17). Tetapi syukur kepada Allah, Yesus sungguh bangkit! Ia mengalahkan maut dan membuka jalan kehidupan yang baru.

Lukas 24 menceritakan bagaimana para murid yang tadinya ketakutan, menjadi penuh keberanian setelah bertemu Yesus yang bangkit. Inilah kekuatan kebangkitan: mengubah ketakutan menjadi harapan, dan kesedihan menjadi sukacita.

KGK 638 menyebut kebangkitan sebagai “kebenaran puncak iman Kristen.” Ini bukan sekadar keajaiban, tapi tanda bahwa kasih Allah lebih kuat dari kematian. Yesus tidak kembali ke kehidupan lama, tapi masuk ke kemuliaan. Kita pun dipanggil untuk hidup dalam semangat kebangkitan itu.

Melalui baptisan, kita ikut mati dan bangkit bersama Kristus (Rom. 6:4). Maka sebagai calon baptis, Anda akan memulai hidup baru yang penuh harapan, cinta, dan semangat untuk terus diperbarui setiap hari dalam terang Kristus.


Kamis

MANJADI KATOLIK YANG BAHAGIA

 

Mengenal Allah Secara Lebih Dekat 

(Bagian pertama dari materi Baptis dewasa)

Allah Pencinta

Allah adalah Sang Pencinta yang mencintai manusia bahkan sebelum penciptaan manusia. Allah yang adalah kasih (1 Yohanes 4:8) telah menyediakan segala sesuatu bagi manusia, termasuk alam semesta yang indah ini. Sebagaimana dinyatakan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 221), "Allah sendiri adalah kasih yang abadi dan tak terbatas". Kasih ini begitu nyata ketika Allah memperkenankan manusia memanggil-Nya dengan sebutan Bapa (KGK 239), sebuah panggilan yang menegaskan hubungan yang sangat dekat antara Allah dan manusia.

Allah mencintai manusia dengan cinta yang tanpa syarat. Ini adalah cinta yang tidak bergantung pada kebaikan manusia atau perbuatan baiknya. Bahkan sebelum manusia mengenal atau mengasihi Allah, Allah sudah lebih dulu mengasihi mereka. Dalam sejarah keselamatan, kita melihat bagaimana Allah selalu merencanakan kebaikan bagi manusia. Dari penciptaan Adam dan Hawa hingga pengutusan Yesus Kristus, cinta Allah selalu nyata dan aktif.

Dalam Kitab Kejadian, kita melihat bagaimana Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:27). Ini adalah bukti bahwa manusia memiliki martabat yang tinggi karena diciptakan oleh Sang Pencinta. Bahkan ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak meninggalkan mereka. Dia berjanji untuk menyelamatkan mereka melalui keturunan wanita (Kejadian 3:15), sebuah nubuat yang digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Gereja mengajarkan bahwa Allah adalah cinta yang aktif dan dinamis. Cinta ini tidak hanya dinyatakan dalam penciptaan, tetapi juga dalam pemeliharaan dan penyelenggaraan-Nya atas alam semesta. Allah mengatur segala sesuatu untuk kebaikan manusia, dan dalam hal ini, manusia dipanggil untuk menanggapi cinta Allah dengan syukur dan pengabdian.

Allah Penyelamat

Allah yang adalah Sang Penyelamat telah memanggil manusia untuk mengalami keselamatan. Keselamatan ini tidak hanya hadir melalui peristiwa besar, tetapi juga dalam hal-hal sederhana: melalui sesama, Kitab Suci, dan pengalaman hidup sehari-hari. KGK 457 menyatakan bahwa Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita, menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas.

Keselamatan dari Allah adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia semata. Allah yang penuh kasih tidak hanya memberi hidup kepada manusia tetapi juga memberikan jalan keselamatan melalui Putra-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus. Gereja mengajarkan bahwa keselamatan adalah proses yang terus berlangsung dalam kehidupan setiap orang beriman. Melalui sakramen-sakramen, terutama Baptisan, kita menerima anugerah keselamatan yang pertama.

Allah memanggil setiap orang untuk terbuka terhadap sabda-Nya. Sabda Allah dapat ditemukan dalam Kitab Suci, tradisi Gereja, dan dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Bagi orang yang mau membuka hati, setiap pengalaman hidup dapat menjadi jalan untuk mengalami kasih dan keselamatan dari Allah.

Allah yang Murah Hati

Kemurahan hati Allah dinyatakan dengan memberikan hidup kepada manusia beserta segala kebutuhannya. Ini bukan karena jasa atau kebaikan manusia, tetapi karena sifat Allah yang penuh kemurahan hati (KGK 54). Allah memberi tanpa pamrih dan tanpa meminta balasan, sebagaimana tertulis dalam Mazmur 145:9, "Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya."

Allah tidak membedakan dalam memberikan kemurahan hati-Nya. Baik orang yang saleh maupun orang berdosa dapat merasakan kebaikan Allah. Yesus dalam Injil mengajarkan bahwa Bapa di surga "menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Matius 5:45).

Kemurahan hati Allah juga tercermin dalam pengampunan-Nya. Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32), kita melihat seorang bapa yang penuh belas kasih menerima kembali anaknya yang telah menyia-nyiakan hartanya. Bapa dalam perumpamaan ini adalah gambaran Allah yang murah hati, yang selalu siap mengampuni setiap orang yang bertobat.

Allah bukan hanya memberi kebutuhan jasmani, tetapi juga kebutuhan rohani. Melalui sakramen-sakramen, Allah mencurahkan rahmat-Nya secara cuma-cuma. Sakramen Ekaristi, misalnya, adalah perwujudan kasih dan kemurahan hati Allah, yang memberikan diri-Nya sebagai makanan rohani bagi kita.

Allah yang Setia

Kesetiaan Allah kepada manusia tak pernah pudar. Dari zaman para nabi hingga zaman Yesus Kristus, Allah tetap setia pada janji-Nya untuk menyelamatkan manusia. KGK 218 menyatakan, "Allah setia pada diri-Nya dan pada janji-Nya." Bahkan ketika manusia berpaling dari-Nya, Allah tetap setia dan tak pernah meninggalkan manusia.

Dalam sejarah keselamatan, kita melihat kesetiaan Allah dalam panggilan para nabi seperti Abraham, Musa, dan Daud. Allah selalu memenuhi janji-Nya meskipun manusia sering gagal menepati janji mereka kepada-Nya. Yesus Kristus adalah bukti puncak dari kesetiaan Allah. Dalam Dia, Allah memenuhi janji keselamatan yang telah dinubuatkan sejak dahulu.

Kesetiaan Allah juga terlihat dalam pemeliharaan-Nya atas Gereja. Meskipun Gereja menghadapi berbagai tantangan sepanjang sejarah, Allah tetap setia memelihara Gereja sebagai tubuh Kristus. Dalam setiap perayaan Ekaristi, kita mengingatkan diri akan kesetiaan Allah yang tak pernah berubah, yang hadir dalam sabda dan sakramen.

 

Allah Bapa

Yesus Kristus mengajarkan kita untuk mengenal Allah sebagai Bapa. Dalam doa Bapa Kami, kita dipanggil untuk menyebut Allah sebagai Bapa kita (Matius 6:9). KGK 2780 menjelaskan bahwa dengan menyebut Allah sebagai Bapa, kita mengakui kedekatan dan hubungan pribadi yang penuh cinta dengan-Nya. Yesus, sebagai Putra Allah, mengajak kita untuk memasuki hubungan yang intim dengan Allah sebagai Bapa kita semua.

Sebutan "Bapa" bagi Allah bukanlah sekadar gelar, tetapi sebuah undangan untuk mengalami hubungan yang penuh kasih dan kepercayaan. Dalam Injil, Yesus selalu menunjukkan keintiman-Nya dengan Bapa. Dia sering berdoa kepada Bapa dan mengajarkan para murid untuk melakukan hal yang sama. Hubungan antara Yesus dan Bapa menjadi model bagi kita untuk membangun relasi dengan Allah.

Allah sebagai Bapa bukanlah sosok yang jauh atau asing. Sebaliknya, Dia adalah Bapa yang selalu peduli, yang memperhatikan kebutuhan kita, dan yang selalu siap untuk mengampuni. Bahkan dalam perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32), Yesus menggambarkan Allah sebagai Bapa yang penuh belas kasih, yang selalu menerima anak-anak-Nya yang kembali kepada-Nya.

Melalui Gereja, kita diajak untuk semakin dekat dengan Allah sebagai Bapa, terutama melalui doa, perayaan Ekaristi, dan sakramen-sakramen lainnya. Dengan menyebut Allah sebagai Bapa, kita diingatkan akan identitas kita sebagai anak-anak-Nya, yang dicintai tanpa syarat.

 

Senin

Gereja adalah tubuh mistik Kristus.

 


Gereja memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kekristenan kita. Ia memiliki arti yang lebih dalam secara rohani dan teologis daripada hanya tempat di mana orang berkumpul untuk berdoa. Gereja adalah komponen penting dari identitas iman Kristen dan itu adalah tempat di mana umat Allah berkumpul belajar dan diutus. Gereja bagaimanapun bukanlah sebuah organisasi atau lembaga yang didirikan oleh manusia. Gereja dianggap sebagai tubuh mistik Kristus dalam iman Katolik ini adalah realitas rohani yang menyatukan Kristus dengan umat-Nya. Karena pemahaman ini kita diajak untuk melihat Gereja sebagai bagian dari misteri keselamatan bukan hanya secara lahiriah. Tubuh Mistik Kristus merujuk pada situasi rohani di mana Kristus melalui Roh Kudus menyatukan diri-Nya dengan semua orang yang beriman. Tidak seperti tubuh fisik yang dimiliki Kristus selama hidup-Nya di dunia tubuh ini merupakan hubungan hidup dan kasih yang menghubungkan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Tubuh Kristus yang lahir dari Perawan Maria disalibkan bangkit dan naik ke surga adalah tubuh nyata. Meskipun demikian Gereja Mistik terdiri dari setiap individu yang dibaptis dan hidup dalam kasih karunia Allah. Yang satu adalah fisik dan historis sedangkan yang lain adalah spiritual dan universal. 

Gereja adalah persekutuan orang-orang Allah yang telah dibaptis dan dipersatukan karena iman dan kasih kepada Kristus. Mereka tidak diikat oleh doktrin atau tujuan duniawi tetapi Roh Kudus yang menghidupkan dan menyatukan mereka. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 787 - 795 dijelaskan bahwa sejak awal Yesus telah memperkenalkan hubungan yang erat antara diri-Nya dan murid-murid-Nya. Ini digambarkan sebagai hubungan seperti pokok anggur dan ranting-rantingnya (lih Yoh 15:1–5). dalam KGK 790 dikatakan persatuan dengan Kristus mengambil bentuk persatuan dengan Tubuh-Nya yaitu Gereja . Menurut Surat Paulus yang pertama kepada Jemaatnya di Korintus 12:12–27 Kita semua telah dibaptis dalam satu Roh ke dalam satu tubuh. . Menurut Efesus 1:22–23 Gereja yang adalah tubuh-Nya yaitu kepenuhan Dia. . . 

Gereja bukan benda tanpa arah. Kristus mengatur menghidupkan dan menyatukan semua anggota Gereja-Nya. Tubuh tidak dapat hidup atau berkembang tanpa kepala. Kristus memberikan kehidupan dan arah bagi seluruh Gereja seperti kepala yang mengarahkan gerakan tubuh. Ia memberikan kebenaran kasih dan keselamatan. Setiap tindakan dan keputusan Gereja yang sebenarnya berasal dari kehendak Kristus. Kristus adalah Kepala Tubuh yaitu Gereja menurut KGK 792. Ditulis dalam Kolose 1:18 Dialah kepala tubuh yaitu jemaat. . Ditulis dalam Efesus 5:23 Kristus adalah kepala jemaat. . . Setiap anggota dalam satu tubuh melakukan tugas yang berbeda tetapi semuanya penting. Setiap orang yang beriman diberi kekuatan istimewa untuk melayani satu sama lain dan membangun tubuh Kristus seperti yang diberikan kepada mereka dalam Gereja. Tubuh tidak akan sehat tanpa kerja sama dan kasih sayang. Untuk melaksanakan misi Kristus secara efektif Gereja juga membutuhkan kesatuan kerja sama dan sikap saling melayani. KGK 791 menyatakan:Meskipun anggota dan tugas mereka berbeda satu Roh menyatukan mereka semua. Kita walaupun banyak adalah satu tubuh di dalam Kristus kata Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma 12:4–5. Dalam 1 Korintus 12:14–20 juga disebutkan bahwa banyak karunia berada dalam satu tubuh. 

Sebagai bagian dari Tubuh Mistik Kristus semua orang beriman diminta untuk menciptakan persaudaraan dan harmoni sejati di dalam komunitas Gereja. Hal ini mencakup hal-hal seperti pengampunan pemahaman dan kepedulian satu sama lain. Gereja ditugaskan untuk menjadi cahaya dan garam dunia. Setiap anggota tubuh Kristus harus menjalankan misinya di masyarakat dengan menyuarakan kebenaran membawa kasih dan menolak kejahatan. Kesatuan kita dengan Kristus dan sesama diperkuat oleh sakramen-sakramen terutama Ekaristi. Untuk memuji Allah dan menerima rahmat-Nya orang-orang yang beriman bersatu sebagai satu tubuh dalam prosesi liturgi. Gereja adalah lebih dari sekadar lembaga sosial dan budaya. Ia adalah tubuh mistik Kristus realitas ilahi yang hidup. Umat beriman adalah anggota-anggotanya dan Kristus adalah Kepala. 

Seharusnya kesadaran akan identitas ini mendorong kita untuk hidup dalam kasih kesatuan dan pelayanan dan menyadari bahwa kita mengambil bagian dalam misteri keselamatan yang ditawarkan Allah kepada dunia melalui Gereja. Sebagai umat beriman marilah kita senantiasa membuka diri terhadap karya Roh Kudus dan menjadi bagian aktif dari Tubuh Kristus. Agar dunia dapat melihat kasih Allah melalui kehidupan Gereja yang nyata dan hidup.

Jumat

Allah yang Murah Hati

 Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu  tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. (Luk 12:29-30)

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu  adalah murah hati." (Luk 6:36)

Dari perikop di atas Kita mengetahuinya bahwa Allah sungguh memperhatikan manusia. Sejak semula Allah sungguh murah hati, kemurahatian Allah menyentuh semua dimensi kehidupan manusia. Tidak ada bagian hidup manusia yang tidak di perhatikan oleh Allah. Maka sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk selalu kuatir dengan bagaimana kita hidup.

Kemurahatian Allah tidak berarti kita tidak perlu berbuat apa-apa, tetapi dengan berusaha sungguh-sungguh memperjuangkan hidup kita dapat merasakan bagaimana Allah murah hati. Karena Allah yang sangat murah hati maka kita pun harus menunjukkan hal yang sama yaitu selalu murah hati. Kita bisa melihat kemurahatian Allah didalam Yesus Kristus karena dalam Yesus kemurahan hati Allah nyata bagi kita. Yesus tidak hanya berkata, “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati”, tetapi Ia juga mewujudnyatakan kemurahan hati Allah itu dalam dunia kita. Kita perlu memperhatikan dengan cermat kata-kata dan karya-karya Yesus kalau kita mau memahami rahasia kemurahan hati Allah itu.  Yesus menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memberi hidup, tetapi juga memenuhi kebutuhan hidup umat-Nya.

Allah sungguh murah hati, dan inilah ungkapan yang bisa kita sampaikan Ketika kita mau bersyukur dan melihat dengan hati akan apapun yang kita rasakan.


Rabu

Allah adalah penyelamat

 Sebelum Tobia mendekati ayahnya berkatalah Rafael kepadanya: "Aku yakin bahwa mata ayahmu akan dibuka." Sapulah empedu ikan itu kepada matanya. Obat itu akan memakan dahulu, lalu mengelupaskan bintik-bintik putih itu dari matanya. Maka ayahmu akan melihat lagi dan memandang cahaya." Adapun Hana bergegas-gegas mendekap anaknya, lalu berkatalah ia kepadanya: "Setelah engkau kulihat, anakku, maka mulai sekarang aku dapat mati." Maka ia menangis. Tobitpun berdiri dan meskipun kakinya tersandung namun ia keluar dari pintu pelataran rumah. Tobia menghampirinya dengan empedu ikan itu di tangan lalu ditiupinya mata Tobit. ditopangnya ayahnya dan kemudian berkatalah ia kepadanya: "Tetapkan hati, pak!" Selanjutnya obat itu dikenakannya padanya dan dibiarkannya sebentar. Lalu dengan kedua tangannya dikelupaskannya sesuatu dari ujung-ujung matanya. Maka Tobit mendekap Tobia sambil menangis. Katanya: "Aku melihat engkau, anakku, cahaya mataku!" Ia menyambung pula: "Terpujilah Allah, terpujilah nama-Nya yang besar, terpujilah para malaikat-Nya yang kudus. Hendaklah nama Tuhan yang besar ada di atas kita dan terpujilah hendaknya segala malaikat untuk selama-lamanya. Sungguh aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi kulihat anakku Tobia!" (Tobia 11:7-14)

 Perikop diatas memberikan gambaran bahwa Tobit memang mengalami suatu cobaan, didalam penderitaannya itu tampaklah karya Allah. Allah telah menyembuhkannya dengan perantaraan anaknya, Tobia.

Perikop ini menyampaikan bahwa Allah sang penyelamat bertindak dengan segala cara yang ada. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk menyelamatkan manusia. Segala cara artinya bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita adalah karya Allah untuk menyelamatkan manusia, bahkan setiap orang yang kita kenal dan menjadi bagian dari hidup kita sering dipakai Allah untuk menyelamatkan kita. Orang tua, saudara, tetangga, anak, istri, teman sekolah, teman bermain dan sebagainya. Melalui merekalah Allah menyapa kita, melindungi kita. Maka yang kita lakukan adalah selalu bersyukur atas apapun yang kita miliki. Menjaga relasi dengan siapapun tetap baik adalah bagian dari rasa syukur kita atas keselamatan dari Allah. 

keselamatan dari Allah bukanlah tentang sesutu yang besar atau ajaib tetapi sesuatu yang simpel, kadang bahkan kita tidak menyadari bahwa itu bagian dari karya Allah. kita yang terlalu menuntut sesuatu yang besar dan ajaib menutup mata untk sesuatu yang sederhana dan merasa seakan Allah tidak melakukan apapun untuk kita. Padahal ketika kita membuka hati untuk selalu bersyukur dan mau melihat secara sederhana di sekitar kita ada banyak keajaiban.

Allah sang Pencinta

 

Dalam kisah penciptaan kita dapat melihat bahwa Allah sungguh mencintai manusia hal ini dapat kita lihat dalam Kej 1:1-2:4. Allah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum menciptakan manusia, bahkan Allah memperkenan manusia untuk mengelola semua ciptaan Allah.

Allah adalah Maha Besar (Ibr 1:3) dan Maha Baik, Karena pengetahuan kita tentang Allah itu terbatas, maka pembicaraan kita tentang Allah pun demikian juga. Kita hanya dapat berbicara tentang Allah dari sudut pandang ciptaan dan sesuai dengan cara mengerti dan cara berpikir manusiawi kita yang terbatas.(KGK 40)

Allah adalah kasih. Kita sering dengar frasa ini, “Allah adalah kasih”, atau “Allah maha-kasih dan maha-penyayang”. Dalam  1Yoh.4:7,8 di sampaikan untuk saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang saling mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah. Jadi barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah Kasih.

Kita mengetahui, Apa yang dilakukan oleh Allah untuk kita, selalu Ia laukan karena kasihNYA kepada kita, Allah telah merencanakan yang serba baik bagi manusia. Apa yang ditulis di dalam Kitab Suci (kitab Kejadian-penciptaan) adalah Allah yang begitu baik bagi kita.

Kasih Allah adalah kasih yang membuat kita terus bertumbuh menuju ke arah Kristus, dan bukan kasih yang semakin berfokus kepada diri atau yang embuat kita kemudian menjadi pribadi yang egois. Kasih Allah bukanlah kasih yang semata-mata membuat diri kita menjadi manja. Namun kasih Allah adalah kasih yang berpusat kepada diri Allah; kasih yang menyempurnakan umat-Nya untuk semakin serupa dengan Kristus. Kasih yang menyelamatkan manusia sehingga menjadi semakin manusia dan semakin layak untuk Bersama Allah dalam kerajaan-Nya.

Selasa

Sejarah terbentuknya Kitab Suci perjanjian Lama

 Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat dan Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch .

Periode I (Antara tahun 1800 - 1600 S.M.): Zaman Bapa-bapa bangsa (Abraham-Ishak-Yakub).

 Periode ini adalah awal sejarah bangsa Israel yang dimulai dari panggilan Abraham sampai dengan kisah tentang Yakub. Dalam tahun inilah Bapa-bapa bangsa hidup. Sebagian kisah mereka tersimpan dalam Kej 12 - 50. Kisah ini kemudian diteruskan secara lisan turun temurun.

Periode II (Antara tahun 1600 - 1225 S.M.): Pengungsian bangsa Israel ke Mesir sampai dengan Perjanjian Sinai

               Periode ini adalah periode kisah bangsa Israel mengungsi ke Mesir, perbudakan di Mesir, pembebasan dari Mesir sampai Perjanjian di Sinai. Kisah-kisah tersebut juga masih disampaikan secara lisan. Mungkin sekali 10 perintah Allah (Dekalog) dalam rumusan yang pendek sudah ditulis pada masa ini sebagai pedoman hidup.

Ini adalah inti Kitab Keluaran

Periode III (Antara tahun 1225 - 1030 S.M.): Perebutan tanah Kanaan dan zaman Hakim-Hakim.

               Pada periode ini, bangsa Israel merebut tanah Kanaan yang diyakini sebagai Tanah Terjanji di bawah pimpinan Yosua dan kehidupan bangsa Israel di tanah yang baru di bawah para tokoh  yang diberi gelar Hakim. Hakim-hakim itu antara lain adalah Debora,  Simson, dan sebagainya. Di samping cerita pada masa ini, juga sudah terdapat beberapa hukum.

Ini adalah inti Kitab Yosua

Periode IV (Antara tahun 1030 - 930 S.M.): Periode Raja-Raja.

               Pada periode ini, bangsa Israel memasuki tahap baru dalam kehidupannya. Mereka mulai menganut sistem kerajaan yang diawali dengan raja Saul, kemudian  digantikan oleh raja Daud dan diteruskan oleh raja Salomo, putra Daud. Pada masa inilah bangsa Israel menjadi cukup terkenal dan disegani  oleh bangsa-bangsa lain. Pada zaman raja Saul, Daud, dan Salomo,  bagian-bagian Kitab Suci Perjanjian Lama mulai ditulis. Misalnya, Kisah  Penciptaan Manusia, Manusia jatuh dalam dosa dan akibatnya, Bapa-bapa Bangsa, Kisah Para Raja, beberapa bagian Mazmur, dan hukum-hukum.

Kehidupan raja-raja inilah yang menjadi Inti Kita Raja-raja

Periode V (Antara tahun 930 - 722 S.M.): Kerajaan Israel dan Yahuda.

Sesudah raja Salomo wafat, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan Utara (Israel) dan kerajaan Selatan (Yuda). Kerajaan Utara hanya berlangsung sampai tahun 722 S.M. Pada periode ini dilanjutkan dengan penulisan Kitab-kitab Suci Perjanjian Lama yang melengkapi cerita-cerita Kitab Taurat Musa serta beberapa tambahan hukum. Di samping itu, pada periode ini mulai muncul pewartaan para nabi dan kisah para nabi seperti Elia dan Elisa, Hosea, Amos. Beberapa bagian pewartaan para nabi mulai ditulis. Pada masa ini, beberapa kumpulan hukum perjanjian mulai diterapkan dan ditulis. Kita dapat membacanya dalam kitab Ulangan.

Periode VI (Antara tahun 722—587 S.M.): Kerajaan Yehuda sesudah Kerajaan Israel runtuh.

               Kerajaan Yehuda masih berlangsung sesudah kerajaan Israel jatuh pada taun 722 S.M. Kerajaan Yehuda atau Yuda masih tetap berdiri kokoh sampai akhirnya mereka dibuang ke Babilon pada tahun 587 S.M. Pada masa ini beberapa tradisi tertulis tentang kisah bapa-bapa bangsa mulai disatukan. Demikian juga, pewartaan para nabi mulai ditulis dan sebagian diteruskan dalam bentuk lisan. Pada masa ini juga muncul tulisan tentang sejarah bangsa Israel, beberapa bagian dari Mazmur, dan Amsal.

Periode VII (Antara tahun 586 - 539 S.M.): Zaman pembuangan Babilon.

               Orang-orang Israel yang berasal dari Kerajaan Yuda hidup di pembuangan Babilon atau Babel selama kurang lebih 50 tahun. Pada masa ini, penulisan Kitab Sejarah dilanjutkan. Muncul pula tulisan yang kemudian kita kenal dengan kitab Ratapan. Demikian pula halnya dengan nabi-nabi, pewartaan para nabi sebelum pembuangan ditulis pada masa ini. Pada periode ini juga muncul para imam yang menuliskan hukum-hukum yang sekarang masuk dalam kitab Imamat.

Periode VIII (Antara tahun 538 - 200 S.M): Zaman sesudah Pembuangan

               Sesudah lima puluh tahun dalam pembuangan di Babel, raja Persia[1], yaitu Koresy (Sirus), pada tahun 538 S.M. mengijinkan umat Israel kembali ke tanah airnya dan membangun Bait Allh di Yerusalem.[2] Pada masa ini kelima kitab Taurat telah diselesaikan. Juga kitab-kitab Sejarah Yosua, Hakim-hakim, 1-2 Samuel, dan Raja-raja sudah selesai ditulis. Kitab-kitab para nabi pun sudah banyak yang diselesaikan Dari ratusan nyanyian, akhirnya dipilih 150 mazmur yang kita terima sampai sekarang. Pada masa ini muncul pula beberapa tulisan Kebijaksanaan.

Periode IX (Dua abad terakhir / Antara Tahun 200 S.M. – 1 M):

               Pada masa ini ditulislah kitab-kitab seperti: Daniel, Ester, Yudith, Tobit, 1, 2 Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo.

 

Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi - menurut tradisi - 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint , yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi yang terusir, yang tinggal di Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap Gereja Katolik. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon Kitab Suci mereka: [1] Ditulis dalam bahasa Ibrani; [2] Sesuai dengan Kitab Taurat; [3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM); [4] dan ditulis di Palestina. Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan semata-mata atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.

Gereja Katolik tidak mengakui konsili rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Patriarch Gereja ( Church Fathers ) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Church Fathers, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para Patriarch Gereja yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka - meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru - menjadi bagian dari Deposit Iman . Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika ( = second-listed ) yang artinya kira-kira: "disertakan setelah banyak diperdebatkan".

sumber referensi : https://www.imankatolik.or.id/Sejarah_Kitab_Suci.htm


Minggu

KETERAMPILAN DALAM MEMANDU KATEKESE UMAT


1.      Menentukan Tema
a.    Berikut ini beberapa petunjuk untuk memilih tema dasar ;
1)      Tema dasar hendaknya mendorong peserta pada salah satu aspek pengalaman hidup mereka dan juga membangkitkan hasrat mereka agar terlibat secara aktif. Peserta diajak menyadari bahwa tema itu mengungkapkan bagian penting kehidupan mereka.
2)      Pemilihan topik hendaknya konsisten dengan model “Shared Christian Praksis” yang menekankan segi partisipasi dan dialog.
3)      Topik itu hendaknya tidak berlawanan dengan iman kristiani.

b.   Merumuskan tema berdasarkan perikop Kitab Suci:
1)      Membaca
Dalam membaca teks kita harus berusaha memahaminya, artinya membaca dengan cukup perhatian. Jika membaca teks, jangan berusaha untuk langsung mengartikannya dan menerapkannya. Keinginan untuk langsung mengartikan dan menerapkan, mengganggu dalam membaca, sampai-sampai mengganggu dalam menyelesaikan pembacaan pada bagian-bagian tertentu. Membaca dengan pengertian dengan membaca sambil mengartikan merupakan dua hal yang berbeda. Jika ingin membaca dengan memperoleh pengertian yang lebih baik maka sebainya teks dibaca beberapa kali, bahkan lebih baik apabila teks yang sama dibaca dalam terjemahan lain.
Membaca dengan perhatian merupakan hal penting yang seringkali tidak dihiraukan oleh para pembaca Alkitab. Apabila hal ini tidak dihiraukan maka akibatnya akan cukup fatal karena seseorang dapat mengartikan firman Tuhan secara serampangan.

2)      Mengamati dan Memahami
Langkah selanjutnya adalah mengamati dan memahami teks Kitab Suci. Langkah ini ditempuh setelah teks dibaca dengan sebaik-baiknya. Untuk membantu dalam mengamati teks, selain membaca seseorang juga perlu membuat suatu salinan kreatif atas teks itu. Menyalin teks secara kreatif berarti membagi-bagikan   kalimat-kalimat dan anak-anak kalimat, agar sebanyak mungkin gagasan, ungkapan khas, masalah, pelaku,dsb yang muncul dalam teks itu. Menyalin teks Kitab Suci secara kreatif berarti menyusunnya dalam berbagai bentuk dan pola, sehingga salinan itu sendiri sudah membantu kita dengan lebih cepat menangkap kekhususan dan keunikan teks tersebut.
Setelah menyalin teks, berilah tanda paada kata atau ungkapan yang yang menarik atau yang khas dengan memberi garis bawah atau memberi warna pada kata atau ungkapan itu. Kata atau ungkapan yang diberi tanda kemudian dicari arti atau maksud sesungguhnya dengan membuka buku tafsir atau kamus Kitab Suci, sehingga kita dapat menemukan maksud atau arti sesungguhnya dari teks itu.
                       
3)      Menerapkan teks
Menerapkan teks dengan baik, berarti menjadikan teks kuno itu sungguh-sungguh berbicara dalam hidup konkret dan sehari-hari. Juga dapat dikatakan bahwa menerapkan teks Kitab Suci dengan baik berarti mengkonfrontasikan kehidupan sehari-hari dengan kebenaran yang menyelamatkan yang ditemukan dalam Kitab Suci.
Teks yang telah diamati dan ditemukan artinya kemudian direnungkan, teks itu berbicara apa bagi kehidupan atau situasi pribadi si pembaca ataupun situasi sosial yang terjadi di masyarakat. Dari permenungan itulah maka dapat dirumuskan suatu tema renungan pribadi atau tema untuk katekese.
Contoh  tema  dari perikop Kitab Suci:
·         Kej 2 : 15
Tema:              Memupuk sikap peduli terhadap lingkungan hidup
Tujuan:            Bersama-sama pendamping, peserta diajak untuk menyadari pentingnya memupuk sikap peduli terhadap                                 lingkungan hidup sehingga semakin terlibat dalam                                                       memelihara alam ciptaan Tuhan agar tetap utuh dan lestari.


·         Yoh 6: 60-69 :
Tema:              Setia Menjadi Murid Yesus dengan Melakukan Kebenaran di Tengah Tantangan Jaman
Tujuan:            Bersama-sama pendamping peserta semakin menghayati imannya akan Yesus Kristus, sehingga semakin setia menjadi murid-Nya yang selalu melakukan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari

contoh salinan kreatif Mrk 4:3-9:
3. Dengarlah!
Ada seorang penabur keluar untuk menabur.

4. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu
jatuh di pinggir jalan,
                lalu datanglah burung
                dan memakannya sampai habis.

5. Sebagian
jatuh di tanah yang berbatu-batu
yang tidak banyak tanahnya;
lalu benih itu pun segera tumbuh,
karena tanahnya tipis.
                6. Tetapi sesudah matahari terbit,
                layulah ia
                dan menjadi kering, karena tak berakar.

7. sebagian lagi
jatuh di tengah semak duri,
                lalu makin besarlah semak itu
                dan menghimpitnya sampai mati,
                sehingga ia tidak berbuah.

8.Dan sebagian
Jatuh di tanah yang baik,
                ia tumbuh dengan suburnya
                dan berbuah,
                hasilnya
                ada yang tiga puluh kali lipat,
                ada yang enam puluh kali lipat,
ada yang seratus kali lipat.

9 Dan kata-Nya:
                SIAPA MEMPUNYAI TELINGA UNTUK MENDENGAR,
                HENDAKLAH IA MENDENGAR!
 
        


2.      Menentukan Sarana
Sarana digunakan hanya sebatas membantu peserta untuk mengungkapkan pengalaman mereka. Sarana dapat berupa suatu simbol, keyakinan, ceritera, bahasa foto, poster, atau sarana lain. Dengan sarana itu diharapkan peserta menemukan salah satu aspek yang dapat dikembangkan menjadi topik dasar berkatekese. Supaya peserta mampu mengungkapkan pengalaman mereka, maka sarana juga harus didukung dengan pertanyaan yang sesuai agar pengalaman peserta sesuai dengan tema.

a.      Contoh sarana dengan Simbol:
Pendamping dapat menunjukan sebuah pot yang ditanami dengan sebuah bunga. Kemudian peserta diminta mengamati bungan tersebut. Setelah peserta mengamati bunga yang indah itu, kemudian pendamping merusak bunga itu dan meminta peserta mengamatinya.

Simbol ini dapat digunakan untuk tema ”Memupuk sikap peduli terhadap lingkungan hidup” dengan bacaan Kej 2 : 15. Pendamping dapat menggunakan simbol-simbol lain yang lebih dekat dengan kehidupan dan lebih mengena bagi peserta katekese, contohnya cangkul, cobek, pisau, dan sebagainya.

b.      Contoh sarana cerita untuk tema :
Seorang ibu memiliki dua orang anak. Anak pertama sekarang kelas 3 SMA, sedangkan anak ke dua masih kelas 6 SD. Setiap hari kakak beradik ini diantar sopir untuk pergi ke sekolah karena kebetulan sekolah mereka ada dalam satu komplek sekolah. Selain berangkat ke sekolah bersama-sama, mereka juga mendapat uang saku dengan jumlah yang sama, yaitu Rp.5000,-.

      Cerita ini dapat dipakai untuk tema ”Keadilan atau murah hati?” dengan bacaan Injil Mat 20: 1-6. Dari cerita ini peserta diajak untuk mengungkapkan pengalaman mereka dalam bersikap adil dan murah hati sehingga peserta diharapkan nantinya dapat menentukan kapan seharusnya bersikap adil dan kapan harusnya berikap murah hati. Untuk memakai sarana cerita, pendamping tidak harus membuat cerita sendiri yang sesuai dengan tema, tetapi pendamping dapat memilih cerita dari buku kumpulan cerita-cerita bermakna.

  1. Contoh Sarana Gambar
Pendamping dapat mempersiapkan sebuah cerita bergambar sebagai sarana dalam SCP. Cerita bergambar dapat diambil dari buku kumpulan ceritra bergambar yang diterbitkan oleh PUSKAT dalam kerangka katekese, atau dapat pula diambil gambar karikatur yang sering dimuat di media cetak seperti koran atau majalah. Gambar karikatur dalam koran KOMPAS yang berjudul ”Om Pasikom” dapat dipakai untuk tema-tema yang berkaitan dengan masalah sosial, seperti kemiskinan, pertarungan politik, kesulitan dalam perekonomian, ketidakadilan, dan lain sebagainya.
Cerita bergambar dengan judul ”Jatuh Tertimpa Tangga”
(terlampir)  yang diambil dari kumpulan cerita bergambar dapat digunakan untuk tema ”Mewujudkan Sikap Rendah Hati” dengan bacaan Kitab Suci Luk 9:18-22.

  1. Contoh Audio-Visual
Salah satu potongan film yang dapat digunakan sebagai sarana adalah film yang berjudul ”Cheng-Cheng Po”. Film ini menceritakan sebuah persahabatan anak-anak yang satu sama lain berbeda agama, etnis dan kebuadayaan namun mereka dapat saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Potongan film ini dapat digunakan untuk SCP dengan tema ”Membangun persaudaraan antar etnis atau suku”.
Dalam penggunaan media Audio-Visual hal yang perlu diperhatikan adalah:
·         Durasi potongan film adalah 10-15 menit, untuk menghindari rasa bosan peserta, dan yang paling penting adalah sarana bukanlah hal yang utama dalam SCP, sarana hanyalah alat bantu dalam mengungkapkan pengalaman peserta.
·         Film yang dipakai adalah sopan, tidak memprofokasi, dan sesuai dengan kebutuhan umur peserta.
·         Alat-alat pendukung (VCD Player, Laptop, LCD, TV, dsb) sebaiknya dipersiapkan dengan baik, agar tidak terjadi kesalahan teknis yang kiranya dapat mengganggu jalannya proses katekese.


MENGENAL KATEKESE UMAT


 
1.      Katekese  Umat
a.      Rumusan Katekese Umat
1)      KATEKESE   UMAT  diartikan  sebagai  komunikasi  iman  atau  tukar  pengalaman   iman (penghayatan  iman)  antara  anggota  jemaat/kelompok, sehingga iman masing-masing diteguhkan. Dalam Katekese Umat tekanan terutama diletakkan penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan ada perencanaan.

2)      Dalam  Katekese  Umat kita bersaksi tentang iman kita akan  Yesus  Kristus.

3)      Yang  berkatekese  ialah Umat, artinya semua orang beriman yang percaya dan meyakini Kristus sebagai pola hidup pribadi, maupun kehidupan kelompok.

4)      Dalam  Katekese   yang  menjemaat  ini   Pemimpin  Katekese  bertindak  terutama  sebagai pengarah  dan  pemudah  (fasilitator). Ia adalah pelayan yang  menciptakan  suasana  yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara  terbuka. 

5)      Katekese  Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam  iman yang sederajat,  yang  saling  bersaksi tentang iman mereka.

b.      Tujuan komunikasi iman itu ialah :
·         Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari;
·         Membangun pertobatan (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya  dalam kenyataan hidup sehari-hari;
·         dengan  demikian  kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan  cinta  kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita;
·         pula  kita  makin  bersatu dalam Kristus, makin  menjemaat,  makin  tegas  mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta;
·         sehingga  kita  sanggup  memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup  kita  di  tengah masyarakat.


2.      Hakekat dan Tujuan Katekese
Hakekat dan tujuan katekese merupakan gerakan mengkomunikasikan harta kekayaan iman Gereja supaya dapat membentuk dan membantu jemaat memperkembangkan imannya pada Yesus Kristus baik secara personal maupun komunal demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah kenyataan dunia. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

a.      To Inform: Menginformasikan (mengajarkan/mewartakan)
Umat merasa rindu, lapar dan haus akan sabda Allah. Dalam arti mereka membutuhkan harta kekayaan dari iman agar mampu memaknai pengalaman dan pergulatan hidupnya. Maka di sini tidak lagi dibutuhkan informasi melainkan ”ilham” untuk mendasari tindakan dan memaknai pergulatan hidup mereka. Penekanannya bukan lagi pada dogmatis, bukan pula bersifat kognitif melainkan komunikatif dan partisipatif hangat, akrab, damai dan dekat. Dengan demikian diharapkan uamt dapat menyikapi komunikasi harta rohani ini sebagai mitra untuk berefleksi dan berdialog.

b.      To Form: Membentuk
Proses cetechetical education berusaha membentuk inti hidup dan jati diri jemaat sehingga iman mereka betul-betul menjadi proses kehidupan (GDC, 29). Melalui komunikasi harta kekayaan iman dan penafsirannya, katekese berusaha menerpa ke kedalaman hidup jemaat yang mencakup sikap dasar, kesadaran, keyakinan, dan pandangan/nilai hidup.

c.       To Transform: Memperkembangkan
Bagian yang paling pokok dari gagasan ini adalah pertobatan yang terus menerus. Pertobatan jemaat yang bersifat utuh akan memberi sumbangan yang sangat berarti dalam membangun hidup menggereja dan menata hidup bersama di masyarakat. Iman memang merupakan tanggung jawab pribadi, personal namun juga sekaligus komunal artinya iman dihayati bersama-sama. Iman perlu diwujudkan dalam tindakan nyata dan tindakan itu dilakukan bagi orang lain tidak bagi dirinya sendiri. Seperti Allah memanggil dan mengasihi secara pribadi, karena ia menyapa setiap orang dengan namanya masing-masing (Yes 45:4). Namun dalam prakteknya kita tidak hidup sendirian, maka penghayatan pribadi itu menjadi penghayatan bersama-sama.
3.      Katekese Pengalaman Hidup sebagai Salah Satu Model Katekese
Model katekese ini merupakan model katekese yang bertitik tolak pada pengalaman hidup umat. Dalam proses pelaksanaan katekese, peserta mengungkapkan pengalamannya secara pribadi dimana Allah sendiri yang menyapa dalam peristiwa hidup sehari-hari. Misalnya dalam peristiwa sakit,  gembira, duka, ketika sedang membaca Kitab Suci atau berdoa. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut disadari bahwa Allah hadir, berkarya dan menyelamatkan.
Mengapa dengan pengalaman hidup peserta? Karena pengalaman mengundang perhatian, pertanyaan, harapan-harapan dan kekuatan manusia, pengalaman mengajar berpikir dan menilai, dan semuanya itu memberi sumbanganke arah semacam harapan untuk merubah hidup manusia. Katekese harus mengusahakan supaya manusia memperhatikan pengalamannya, baik pribadi maupun sosial. Katekese mempunyai tugas menempatkan pertanyaan-pertanyaan dalam sinar Injil, sehingga manusia akan merubah hidupnya.