Tampilkan postingan dengan label Fransiskus Asisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fransiskus Asisi. Tampilkan semua postingan

Kamis

Paus Fransiskus: Fransiskus dari Assisi di Zaman Modern

 


Kalau kita bicara soal pemimpin spiritual yang benar-benar “beda,” sulit rasanya untuk tidak menyebut Paus Fransiskus. Sejak awal terpilih sebagai Paus tahun 2013, beliau langsung bikin kejutan—bukan karena gebrakan politik atau doktrin berat, tapi karena kesederhanaannya yang tulus. Beliau memilih nama "Fransiskus" sebagai Paus, dan itu bukan asal pilih. Nama itu adalah penghormatan kepada Santo Fransiskus dari Assisi, sang pencinta damai, alam, dan kaum miskin.

Dan kalau kita perhatikan lebih dalam, gaya hidup dan ajaran Paus Fransiskus memang sangat "Fransiskan"—bukan cuma dari cara berpakaian atau pilihan tempat tinggal, tapi dari cara beliau memandang dunia dan sesama. Rasanya pantas banget kalau beliau disebut sebagai “Fransiskus dari Assisi di zaman modern.”

Paus Fransiskus hidup di tengah pusat kekuasaan agama terbesar di dunia, tapi justru menunjukkan gaya hidup yang jauh dari mewah. Beliau menolak tinggal di Istana Apostolik dan lebih memilih Domus Sanctae Marthae—tempat yang lebih sederhana dan dekat dengan para pekerja Vatikan. Ia juga tidak segan-segan naik mobil kecil atau bahkan bus umum saat masih jadi Uskup di Buenos Aires.

Dalam dokumen Evangelii Gaudium (2013), Paus menulis, “Saya ingin Gereja yang miskin dan untuk orang miskin.” (EG, 198) Itu bukan slogan semata, tapi benar-benar dijalani. Dalam banyak kesempatan, Paus Fransiskus lebih memilih bertemu orang biasa, menyentuh tangan mereka, mendengar keluh kesah mereka—bukan hanya menyampaikan ajaran dari atas mimbar.

Satu hal lain yang mencolok dari Paus Fransiskus adalah semangat persaudaraan universalnya. Beliau menjalin dialog dengan semua orang—entah mereka beragama Katolik, Muslim, Yahudi, atau bahkan yang tidak percaya agama sekalipun. Persis seperti Santo Fransiskus dari Assisi yang datang ke kamp Sultan al-Kamil saat Perang Salib hanya untuk berdialog secara damai, Paus Fransiskus juga mengambil jalur yang sama: membangun jembatan, bukan tembok.

Dalam ensiklik Fratelli Tutti (2020), Paus mengajak kita semua untuk melihat satu sama lain sebagai saudara: “Kita dipanggil untuk menjadi satu keluarga manusia, untuk hidup bersama dalam sebuah rumah bersama, yaitu bumi.” (FT, 17)

Beliau bahkan menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia bersama Imam Besar Al-Azhar pada 2019 di Abu Dhabi—sebuah langkah berani dalam dunia yang sering kali dipecah oleh fanatisme dan konflik agama.

Dari sudut pandang sosial, Paus Fransiskus juga membawa angin segar. Ia mendorong Gereja untuk keluar dari zona nyaman dan membuka diri pada mereka yang terluka dan tersisih. Dalam pandangannya, Gereja bukanlah klub eksklusif orang-orang suci, melainkan "rumah sakit lapangan" untuk yang sedang jatuh dan butuh tempat bersandar.

Beliau pernah mengatakan: “Saya lebih suka Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar ke jalan, daripada Gereja yang tertutup dan merasa nyaman dalam keamanan semunya.” (Evangelii Gaudium, 49)

Ini sejalan banget dengan harapan banyak umat yang ingin Gereja lebih manusiawi, lebih ramah, dan tidak menghakimi.

Satu hal lagi yang membuat Paus Fransiskus begitu relevan hari ini adalah kepeduliannya pada lingkungan. Dalam ensiklik Laudato Si’ (2015), beliau membahas pentingnya menjaga bumi sebagai rumah bersama. Ia menekankan bahwa krisis lingkungan dan krisis sosial adalah dua sisi dari koin yang sama. Kata Paus: “Segala sesuatu saling berkaitan, dan semua orang kita dipersatukan sebagai saudara dan saudari dalam perjalanan kasih.” (Laudato Si’, 92)

Ia menantang kita semua—bukan hanya umat Katolik, tapi seluruh umat manusia—untuk hidup lebih bijak, lebih hemat, dan lebih bersyukur terhadap ciptaan Tuhan.

Dalam dunia yang makin kacau—dengan krisis iklim, perang, ketimpangan ekonomi, dan polarisasi sosial—Paus Fransiskus hadir seperti suara kenabian. Ia mengingatkan bahwa spiritualitas itu tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Menjadi orang beriman berarti juga menjadi orang yang peduli, adil, dan penuh kasih.

Teolog Leonardo Boff, yang juga dikenal sebagai tokoh teologi pembebasan, pernah berkata:  “Paus Fransiskus adalah perpanjangan tangan dari semangat Fransiskus Assisi; ia adalah utusan spiritualitas yang menyentuh bumi namun mengangkat langit.” Dan memang, lewat gaya hidupnya, ajarannya, dan sikap-sikap kecilnya yang penuh kasih, Paus Fransiskus membawa kita kembali pada esensi: mencintai Tuhan, mencintai sesama, dan mencintai bumi.

Di tengah dunia yang serba cepat dan materialistis, figur seperti Paus Fransiskus menjadi pengingat bahwa kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Bahwa dialog lebih kuat dari debat, dan bahwa merangkul lebih bermakna daripada menghakimi.  Melalui Paus Fransiskus, kita bisa melihat bahwa semangat Santo Fransiskus dari Assisi masih hidup dan relevan—bahkan semakin dibutuhkan. Ia bukan hanya Paus, tapi seorang sahabat bagi semua, suara hati nurani di tengah kebisingan dunia, dan terang kecil yang menyinari zaman modern.

Jumat

Leadership: 5 KARATERISTIK PEMIMPIN MENURUT SANTO FRANSISKUS ASISI

 

Ada banyak model kepemimpinan di dunia dan ada banyak spirtualitas yang bisa di pakai untuk belajar kepemimpinan. Salah satu yang menarik adalah belajar kepemimpinan dari santo fransiskus asisi. Memang fransiskus tidak menyampaikan secara langsung bagaimana menjadi pemimpin yang baik, atau memberi tulisan – tulisan khusus tentang kepemimpinan. Tetapi kita bisa belajar dari cara hidup santo fransiskus, pilihan-pilihannya, dan nasihat nasihatnya. Dengan demikian kita mampu menjadi seorang pemimpin yang baik. Berikut adalah 5 hal dari berbagai sumber yang bisa kita teladani untuk menjadi pemimpin ala Fransiskus asisi:

  1.   CONVERSIO

Conversio adalah sebuah tindakan pertobatan injili, atau pertobatan yang dilakukakan secara terus menerus tiada henti. Pertobatan tidak hanya di artikan berbalik arah, tetapi keterarahan hati dan jiwa kepada Allah. Serta sebuah upaya untuk terus menerus memperbaiki diri. Pemimpin ala fransiskus asisi harusnya memiliki sikap conversio yang artinya mampu melakukan pertobatan terus menerus. Pertobatan yang pertama adalah berdamai dengan seluruh pengalaman pahit masa lalu, melepaskan semua dendam dan sakit hati yang terjadi karena luka-luka masa lalu. Dengan berdamai dan menerima semuanya itu maka seorang pemimpin bisa mengambil keputusan dengan obyektif. 
Pemimpin juga harus mampu berdamai dengan dirinya sendiri yaitu menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Sehingga tahu bagaimana harusmengembangkan dirnya. Pemimpin ala fransiskus asisi juga harus selalu membuka diri pada perubahan ke arah yang lebih baik. Selalu memprbaharui diri hingga semakin serupa dengan Allah

 

2.       PARVUM HABITUS
Bersikap kecil, artinya seorang pemimpin ala fransiskus memiliki sikap merasa kecil di hadapan Allah sehingga ia bersedia untuk turba (turun ke bawah) dan menyapa semua anggotanya sebagai saudara seperjuangan dengan kasih. Bukan sebagai tuan dan hamba. Dalam injil Yesus bahkan menyebut para rasul sebagai sahabat. Dengan sikap ini ini maka  seorang pemimpin mampu mendengarka aspirasi secara baik dan tidak menjadi diktator. Paus fransiskus sangat menghidupi sikap ini. 

 

3.       CONTEMPLATIO
Seorang pemimpin ala fransiskus harus mampu berefleksi, merenung dan mengolah diri, sehingga setiap keputusan di ambil dengan ketenangan batin. Fransiskus asisi mengajarkan pentingnya selalu berdoa di dalam setiap proses pengambilan keputusan sehingga ada waktu untuk menganalisa keputusan, apakah ini kehendak daging ataukah kehendak roh. Pembatinan ini berguna juga untuk mengevaluasi semua tindakan yang di ambil. Skema nya adalah
MELIHAT ---- MENGANALISA---- BERTINDAK
Setelah melihat situsi kemudian menganalisa atau merenungkan, disinilah contemplatio berada kemudian bertndak untuk mengambil keputusan. Setelah itu di lihat kembali kemudian di contemplatio lagi dan di perbaiki begitu seterusnya.
 
4.       FRATERNITATEM
Seorang pemimpin ala fransisku harus di jiwai semangat persaudaraan. Karena di dalam persaudaraan, setiap pemimpin haruslah mampu mendengar dan memberi telinga kepada semua yang dipimpinnya, Ia harus mau menceritakan pengalamannya, keterbukaannya, pengharapannya dan permasalahannya. Ketika seorang pemimpin memberi telinganya kepada yang dipimpin maka ia harus juga bersedia mengampuni kesalahan sesama. Jika ada anggotanya yang sakit, maka pempin harus bisa mengisnpirasi anggota yang lain untuk bisa merawatnya sama seperti seorang ibu merawat anaknya yang sakit. Bagi pemimpin dengan semangat fransiskan para anggota adalah bagian dari hidupnya, saudara saudarinya yang kemudian di cintainya dengan tulus sama seperti Yesus Kristus yang mengangap semua orang adalah saudara-saudarinya dan berani mencintai dengan tulus bahkan mengorbankan dirinya di kayu salib.

 5.       Fortitus

 Seorang pemimpin ala fransiskus sebaiknya memiliki jiwa keberanian, berani mengambil sikap yang benar, Ketika dunia saat ini sedang sakit dan berada dalam kondisi ketidakjelasan maka pemimpin ala fransiskus berani mengambil sikap agar bisa membawa anggotanya pada arah yang baik. Pemimpin juga bearin mengaku salah jika memang salah, berani meinta maaf, berani belajar dari semua orang, berani membela jika memang berada pada posisi benar.

Kamis

MELIHAT SEBUAH CINTA MELALUI TRADISI TRANSITUS ST FRANSISKUS


“Transitus adalah sebuah tradisi para fransiskan yang berasal dari bahasa Italia “Transito” yang memiliki arti peralihan Transitus merupakan masa peralihan dari kehidupan yang lama menuju kehidupan baru. Secara teologis, transitus dapat dikatakan juga merupakan masa peralihan dari kehidupan dunia ke kehidupan surgawi yang dikenal dalam iman.

Para fransiskan dan fransiskanes merayakan transitus sehari sebelum perayaan wafatnya St Fransiskus Assisi tanggal 4 oktober. Mereka merayakan dalam bentuk ibadat dalam komunitas-komunitas dan permenungan yang biasanya diambil dari beberapa pokok penting dalam hidup Bapa Fransiskus Asisi. Transitus ini adalah sebuah peristiwa cinta yang agung. Para fransiskan dan fransiskanes mengenang kembali dan merenungkan cinta St. Fransiskus Assisi kepada Yesus Kristus yang tersalib. Dalam puncak cintanya, Bapa Fransiskus tidak memandang kematian sebagai sebuah kengerian, tetapi sebuah peristiwa datangnya saudari maut yang akan mengajaknya menemui sang cinta sejati yaitu Yesus Kristus. Di dalam cinta segala sesuatu menjadi indah karena di dalamnya Allah hadir (bdk 1 yoh 4:8). Santo Fransiskus mencintai semua ciptaan yang ada di alam semesta karena  ia begitu dekat dengan Allah dan mencintaiNya dengan sepenuh hidupnya. Peristiwa transitus membuktikan hal ini, dimana bahkan sang maut pun dicintai oleh Santo Fransiskus.

Santo Fransiskus dikaruniai Lima luka suci yang mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa pada tubuh Fransiskus dua Tahun sebelum kematiannya, Yaitu setelah berdoa di dalam kesunyian bukit La Verna pada awal September 1224. Di tempat ini Franasiskus berdoa “Tuhanku Yesus Kristus, saya mohon kepada-Mu karuniakanlah dua anugerah sebelum saya meninggal.  Pertama ialah agar Kau izinkan merasakan – dalam jiwa ragaku – sebanyak mungkin penderitaan hebat yang Engkau, Yesus Yang Manis, telah rasakan pada saat sengsara-Mu yang amat pahit itu. Kedua ialah agar saya boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putera Allah, tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa”.

Santo Fransiskus merasakan bahwa Saudari maut sudah sangat dekat, kemudian Ia meminta para saudara dina melepaskan semua jubahnya dan berbaring di lantai tanpa alas agar dapat menyerupai Kristus di kayu salib yang sedang menghadapi maut. Fransiskus kemudian minta kepada para saudara dina untuk membacakan baginya kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dari Injil Yohanes. Lalu, dengan tangan-tangannya yang menyilang di dada, Fransiskus memberkati semua anak-anak rohaninya. Dia mulai mendaras Mazmur Daud bersama anak-anak rohaninya itu: “Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN”, dan menyelesaikan mazmur itu sampai akhir: “Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku” (Mzm 142:2-8; lihat 1Cel 109; LegMaj XIV:5).

Tradisi transitus ini semakin menunjukan betapa besarnya cinta Santo Fransikus kepada Yesus Kristus yang membuat Ia mampu mengalahkan rasa sakit dan penderitaannya. Melalui peristiwa ini kita diajak untuk berani hidup di dalam cinta Bersama Allah. karena dengan demikian kita mampu untuk melihat semua kepahitan hidup ini dengan rasa syukur dan tetap sukacita. Sekalipun beban yang kita tanggung berat, sekalipun kita harus menerima penolakan atau mungkin amarah dan kebencian dari orang lain. Tetapi, selama kita berada di dalam cinta bersama Allah seperti Bapa Fransiskus kita akan mampu melihat semuanya itu dalam kaca mata syukur.

pernah penulis posting di smasedes-smg.sch.id

sumber referensi: 

https://catatanseorangofs.wordpress.com/2010/01/22/arti-kematian-santo-fransiskus-dari-assisi/

Rabu

Santo Fransiskus Asisi, Pengaku Iman



Posted by bambangts on Oktober 7, 2014
Giovanni Francesco Bernardone lahir di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah pada tahun 1182. Ayahnya, Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya; sedang ibunya Yohana Dona Pica, seorang puteri bangsawan picardia, Prancis. Ia dipermandikan dengan nama ‘Giovanni Francesco Bernardone’ tetapi kemudian lebih dikenal dengan nama ‘Francesco’ karena kemahirannya berbahasa Prancis yang diajarkan ibunya.
la sangat dimanjakan ayahnya sehingga berkembang menjadi seorang pemuda yang suka berfoya-foya dan pemboros. Pada umur 20 tahun ia bersama teman-temannya terlibat sebagai prajurit dalam perang saudara antara Asisi dan Perugia. Dalam pertempuran itu ia ditangkap dan dipenjarakan selama 1 tahun hingga jatuh sakit setelah dibebaskan. Pengalaman pahit itu menandai awal hidupnya yang baru. Ia tidak tertarik lagi dengan usaha dagang ayahnya dan corak hidup mewahnya dahulu. Sebaliknya ia lebih tertarik pada corak hidup sederhana dan miskin sambil lebih banyak meluangkan waktunya untuk berdoa di gereja, mengunjungi orang-orang di penjara dan melayani orang-orang miskin dan sakit. Sungguh suatu keputusan pribadi yang datang di luar bayangan orang sedaerahnya dan orangtuanya.
Tak lama kemudian ketika sedang berdoa di gereja San Damian di luar kota Asisi, ia mendengar suatu suara keluar dari Salib Yesus: “Fransiskus, perbaikilah rumahku yang hampir rubuh ini!” Fransiskus tertegun sebentar lalu dengan yakin mengatakan bahwa suara itu adalah suara Yesus sendiri. Segera ia lari ke rumah. Tanpa banyak pikir dia mengambil setumpuk kain mahal dari gudang ayahnya lalu menjual kain-kain itu. Uang basil penjualan kain itu diberikan kepada pastor paroki San Damian untuk membiayai perbaikan gereja itu. Tetapi pastor menolak pemberiannya itu.
Ayahnya marah besar lalu memukul dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu. Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damian. Ayahnya mengikuti dia ke sana, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil penjualan kain itu. Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikan kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang. Ayahnya tidak berdaya lalu meminta bantuan Uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh pada Uskup. Di hadapan Uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang dikenakannya sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu pun milik ayahnya. Dan semenjak itu hanya Tuhan-lah yang menjadi ayahnya. Sang Uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang. Inilah pakaian para gembala domba dari Umbria, yang kemudian menjadi pakaian para biarawan Fransiskus.
Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang terjadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata: “Nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh “Bapa kami yang ada di surga.” Dan semenjak itu Sabda Yesus “Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin” menjadi dasar hidupnya yang baru. Sehari-harian ia mengemis sambil berkotbah kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damiano. Ia menolong orang-orang miskin dan penderita lepra dengan uang yang diperolehnya setiap hari. Ia sendiri hidup miskin. Kalau ia berbicara tentang nasehat-nasehat Injil, ia menggunakan bahasa lagu-lagu cinta yang populer dan bahasa-bahasa puitis. Ia sendiri rajin menyusun puisi-puisi dan selalu membacakannya keraskeras kalau ia berjalan jalan.
la disebut orang sekitar dengan nama “Poverello” (=Lelaki miskin). Cara hidupnya, yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta kepada orang-orang miskin dan sakit, menarik minat banyak pemuda. Pada tahun 1209, ada tiga orang bergabung bersamanya: Bernardus Guantevale, seorang pedagang kaya; Petrus Katana, seorang pegawai, dan Giles, seorang yang sederhana dan bijak. Harta benda mereka dipakai untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Bersama derigan tiga orang itu, Fransiskus membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ordo yaitu “Ordo Saudara-saudara Dina”, atau “Ordo Fransiskan.” Tak ketinggalan wanita-wanita. Klara, seorang gadis Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung juga bersamanya. Bagi Klara dan kawan-kawannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulah awal dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan atau Ordo Kedua Fransiskan.
Fransiskus ditahbiskan menjadi diakon dan mau tetap menjadi seorang diakon sampai mati. Ia tidak mau ditahbiskan menjadi imam. Lebih dari orang-orang lain, Fransiskus berusaha hidup menyerupai Kristus. Ia. menekankan kemiskinan absolut bagi para pengikutnya waktu itu. Sebagai tambahan pada kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, ia menekankan juga penghayatan semangat cinta persaudaraan, dan kesederhanaan hidup. Ordo Benediktin yang sudah lama berdiri memberi mereka sebidang tanah. Demi sahnya komunitas yang dibentuknya, dan aturan hidup yang disusunnya, ia berangkat ke Roma pada tahun 1210 untuk meminta restu dari Sri Paus Innosensius III (1198-1216). Mulanya Sri Paus menolak. Tetapi pada suatu malam dalam mimpinya, Paus melihat tembuk-tembok Basilik Santo Yohanes Lateran berguncang dan Fransiskus sendiri menopangnya dengan bahunya. Pada waktu pagi, Paus langsung memberikan restu kepada Fransiskus tanpa banyak bicara.
Lagi-lagi Ordo Benediktin menunjukkan perhatiannya kepada Fransiskus dan kawan-kawannya. Kapela Maria Ratu para Malaekat di Portiuncula, milik para rahib Benediktin, kira-kira dua mil jauhnya dari kota Asisi, diserahkan kepada Fransiskus oleh Abbas Ordo Benediktin. Fransiskus gembira sekali. Ia mulai mendirikan pondok-pondok kecil dari kayu di sekitar kapela itu sebagai tempat tinggal mereka yang pertama. Kemudian Chiusi, seorang tuan tanah di daerah itu, memberikan kepadanya sebidang tanah di atas bukit La Verna, di bilangan bukit-bukit Tuscan. La Verna kemudian dijadikannya sebagai tempat berdoa dan bermeditasi. Semangat kerasulannya mulai membara dari hari ke hari. Dalam hatinya mulai tumbuh keinginan besar untuk mempertobatkan orangorang Muslim di belahan dunia Timur. Ia mulai menyusun rencana perjalanan ke Timur. Pada musim gugur tahun 1212, ia bersama seorang kawannya berangkat ke Syria. Tetapi nasib sial menghadang mereka di pertengahan jalan. Kapal yang mereka tumpangi karam dan mereka terpaksa kembali lagi ke Italia. Tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba lagi dan kali ini ia mau pergi ke Maroko melalui Spanyol. Tetapi sekali lagi niatnya tidak bisa terlaksana karena ia jatuh sakit. Pada bulan Juni 1219, ia sekali lagi berangkat ke belahan dunia Timur bersama 12 orang temannya. Mereka mendarat di Damaieta, delta sungai Nil, Mesir. Di sana mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perang Salib yang berkemah di sana. Nasib sial menimpa dirinya lagi. Ia ditawan oleh Sultan Mesir. Saat itu menjadi suatu peluang baik baginya untuk berbicara dengan Sultan Islam itu. Sebagai tawanan ia minta izin untuk berbicara dengan Sultan Mesir. Ia. berharap dengan pertemuan dan pembicaraan dengan Sultan, ia dapat mempertobatkannya. Sultan menerima dia dengan baik sesuai adat sopan santun ketimuran. Namun pertemuan itu sia-sia saja. Sultan tidak bertobat dan menyuruhnya pulang kepada teman-temannya di perkemahan setelah mendengarkan kotbahnya.
Setelah beberapa lama berada di Tanah Suci, Fransiskus dipanggil pulang oleh komunitasnya. Selama beberapa tahun, ia berusaha menyempurnakan aturan hidup komunitasnya. Selain itu ia mendirikan lagi Ordo Ketiga Fransiskan. Ordo ini dikhususkan bagi umat awam yang ingin mengikuti cara hidup dan ajarannya sambil tetap mengemban tugas sebagai bapa-ibu keluarga atau tugas-tugas lain di dalam masyarakat. Para anggotanya diwajibkan juga untuk mengikrarkan kaul kemiskinan dan kesucian hidup. Kelompok ini lazim disebut kelompok “Tertier”. Tugas pokok mereka ialah melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam keluarga dan masyarakat dan mengikuti cara hidup Fransiskan tanpa menarik diri dari dunia.
Ordo Fransiskan ini berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak jumlahnya di Italia, Spanyol, Jerman dan Hungaria. Pada tahun 1219 anggotanya sudah 5000 orang. Melirlat perkembangan yang menggembirakan ini maka pada tahun 1222, Paus Honorius III (1216-1227) secara resmi mengakui komunitas religius Fransiskan beserta aturan hidupnya. Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio. Upacara malam Natal diselenggarakan di luar gereja. Dia rnenghidupkan kembali. gua Betlehem dengan gambar-gambar sebesar badan. Penghormatan kepada Kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya.
Pada umur 43 tahun ketika sedang. berdoa di bukit La Verna sekonyong-konyong terasa sakit di badannya dan muncul di kaki dan tangan serta lambungnya luka-luka yang sama seperti luka-luka Yesus. Itulah ‘stigmata’ Fransiskus. Luka-luka itu tidak pernah hilang seliingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Semenjak peristiwa ajaib itu, Fransiskus mulai mengenakan sepatu dan mulai menyembunyikan tangan-tangannya di balik jubahnya.
Fransiskus dikagumi orang-orang sezamannya bahkan hingga kini karena berbagai karunia luar biasa yang dimilikinya. Ia dijuluki “Sahabat alam semesta” karena cintanya yang besar dan dalam terhadap alam ciptaan Tuhan. Semua ciptaan menggerakkan jiwanya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan keagunganNya. Seluruh alam raya beserta isinya benar-benar berdamai dengan Fransiskus. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai ‘saudara': saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll. Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang.
Lama kelamaan kesehatannya semakin menurun dan pandangan matanya mulai kabur. Dalam kondisi itu, ia menyusun karyanya yang besar “Gita Sang Surya.” Salah satu kidung di dalamnya, yang melukiskan tentang ‘keindahan saling mengampuni’ dipakainya untuk mendamaikan Uskup dengan Penguasa Asisi yang sedang bertikai. Ia diminta untuk mendamaikan keduanya. Untuk itu ia menganjurkan agar perdamaian itu dilakukan di halaman istana uskup bersama beberapa imam dan pegawai kota. Ia sendiri tidak ikut serta dalam pertemuan perdamaian itu. Namun ia mengutus dua orang rekannya ke sana dengan instruksi untuk menyanyikan lagu “Gita Sang Surya”, yang telah ia tambahi dengan satu bagian tentang ‘keindahan saling mengampuni’. Ketika mendengar nyanyian yang dibawakan dengan begitu indah oleh dua orang biarawan Fransiskan itu, Uskup dan Penguasa Asisi itu langsung berdamai tanpa banyak bicara.
Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengundurkan diri. Sebab, di antara saudara-saudarariya seordo terjadilah selisihpaham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang diointai dan dihayatinya sendiri. Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam umur 44 tahun, Fransiskus meninggal dunia di kapela Portiuncula. Dua tahun berikutnya, ia langsung dinyatakan ‘kudus’ oleh Gereja.
Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Kebesarannya terletak pada dua hal berikut: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana, menderita lapar dan sakit, dan pada cintanya yang merangkul seluruh ciptaan. Ketika Gereja menjadi lemah dan sakit karena lebih tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman Kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasehat-nasehat dan cita-cita Injil yang asli: kerendahan hati, kemiskinan dan cinta.!